Senyum Mereka adalah Semangatku
Tengku Iskandar, M.Pd
Oleh: Tengku Iskandar, M.Pd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat
(Padang, Indonesia)
SETIAP manusia membutuhkan alasan untuk terus berjuang menghadapi kehidupan. Bagi banyak orang, keluarga, terutama orang tua, menjadi sumber motivasi yang tidak ternilai. Senyum mereka menghadirkan kekuatan ketika tubuh dan pikiran mengalami kelelahan. Islam menempatkan keluarga dan orang tua pada posisi yang sangat mulia. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, sementara hadis Nabi Muhammad ﷺ memberikan penekanan khusus terhadap kedudukan seorang ibu. Artikel ini membahas makna senyum orang-orang tercinta sebagai sumber semangat hidup dalam perspektif Islam, dengan merujuk pada Al-Qur’an, hadis, serta penafsiran ulama seperti Ibn Kathir, al-Tabari, dan al-Qurtubi. Semangat bekerja, belajar, beribadah, dan berbuat baik seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi sarana menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga dan memperoleh ridha Allah SWT.
Kata kunci: senyum, keluarga, orang tua, motivasi, birrul walidain, Islam.
Senyum yang Menguatkan
Ada hari ketika seseorang merasa begitu lelah. Pekerjaan menumpuk, persoalan datang silih berganti, rencana tidak berjalan sesuai harapan, sementara kehidupan menuntut kita untuk terus melangkah.
Pada keadaan seperti itu, manusia membutuhkan kekuatan.
Namun kekuatan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang ia hadir melalui hal yang sangat sederhana: senyum seorang ibu, tatapan seorang ayah, keceriaan anak-anak, atau sambutan keluarga ketika kita pulang ke rumah.
Itulah sebabnya ada sebuah ungkapan yang sederhana tetapi sangat dalam: “Senyum mereka adalah semangatku.”
Senyum tersebut mungkin tidak menyelesaikan persoalan secara langsung. Namun ia memberikan alasan untuk tidak menyerah.
Seorang ayah yang lelah bekerja dapat kembali bersemangat ketika melihat anak-anaknya bahagia. Seorang ibu yang menghadapi berbagai kesulitan dapat tetap tersenyum karena melihat keluarganya baik-baik saja. Seorang anak yang sedang berjuang menuntut ilmu dapat bertahan karena teringat harapan orang tuanya.
Di balik perjuangan yang tampak, sering terdapat cinta yang tidak terlihat.
Islam Mengajarkan Penghormatan kepada Orang Tua
Islam tidak memandang orang tua sekadar sebagai bagian dari struktur keluarga. Orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran agama.
Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23).¹
Perhatikan susunan ayat tersebut. Perintah berbuat baik kepada orang tua ditempatkan setelah perintah untuk menyembah Allah semata. Ini menunjukkan betapa pentingnya birrul walidain dalam kehidupan seorang Muslim.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa larangan mengucapkan “uff” menunjukkan larangan terhadap perkataan buruk yang paling ringan sekalipun. Jika perkataan sekecil itu dilarang, terlebih lagi membentak, mencela, atau menyakiti hati orang tua. Sebaliknya, seorang anak diperintahkan menggunakan perkataan yang baik, lembut, penuh penghormatan, dan memuliakan mereka.²
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan modern.
Kemajuan teknologi telah membuat komunikasi menjadi cepat, tetapi belum tentu membuat komunikasi keluarga menjadi lebih baik. Seseorang dapat berkomunikasi dengan ribuan orang melalui media sosial, tetapi terkadang lupa bertanya kepada ibunya yang berada di rumah, “Ibu sudah makan?”
Padahal pertanyaan sederhana itu bisa menjadi bentuk bakti.
Ibu: Sosok yang Menanggung Banyak Pengorbanan
Al-Qur’an secara khusus menggambarkan beratnya perjuangan seorang ibu.
Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14).³
Ayat ini mengingatkan manusia kepada perjalanan panjang seorang ibu: mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak.
Ibn Kathir menjelaskan bahwa ungkapan “wahnan ‘ala wahn” menggambarkan kelemahan dan kesusahan yang bertambah-tambah dalam proses kehamilan. Allah mengingatkan manusia tentang kesulitan yang dialami seorang ibu agar anak mengingat kebaikan dan pengorbanannya.
Al-Tabari juga menjelaskan bahwa ungkapan tersebut berkaitan dengan kelemahan demi kelemahan dan kesulitan demi kesulitan yang dialami ibu dalam mengandung dan merawat anak. Karena itu, perintah bersyukur kepada Allah disandingkan dengan bersyukur kepada kedua orang tua.⁵
Dari sini kita belajar bahwa senyum seorang ibu tidak lahir begitu saja. Di balik senyum itu terdapat sejarah pengorbanan yang panjang.
Mungkin kita melihat ibu tersenyum ketika menyambut kepulangan kita. Tetapi kita tidak melihat berapa banyak malam yang dahulu ia habiskan untuk menjaga kita ketika sakit.
Mungkin kita melihat ibu menikmati kebahagiaan anak-anaknya. Tetapi kita tidak melihat berapa banyak keinginannya yang dikorbankan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, jangan pernah menganggap kasih sayang ibu sebagai sesuatu yang biasa.
“Ibumu, Ibumu, Ibumu”
Kedudukan ibu semakin jelas dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik darinya. Rasulullah menjawab:
أُمُّكَ
“Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Kemudian ketika ditanya lagi, Rasulullah ﷺ menjawab, “Ayahmu.”⁶
Hadis ini menunjukkan besarnya hak seorang ibu untuk mendapatkan kebaikan dari anak. Pengulangan kata “ibu” sebanyak tiga kali bukanlah tanpa makna. Ia menunjukkan besarnya pengorbanan seorang ibu sekaligus besarnya hak yang melekat padanya.
Namun hadis tersebut tidak berarti bahwa ayah tidak penting. Ayah tetap memiliki hak besar untuk dihormati dan ditaati dalam perkara yang baik. Rasulullah ﷺ hanya memberikan penekanan khusus terhadap ibu karena beratnya proses kehamilan, persalinan, penyusuan, dan pengasuhan.
Senyum Mereka Menjadi Energi Kehidupan
Dalam psikologi kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan tujuan yang memberikan makna terhadap perjuangan. Seseorang akan lebih kuat menghadapi kesulitan ketika ia mengetahui untuk siapa dan untuk apa ia berjuang.
Dalam perspektif Islam, orientasi utama tentu saja adalah mencari ridha Allah SWT. Namun keluarga dapat menjadi salah satu jalan yang sangat mulia menuju ridha tersebut.
Ketika seorang ayah bekerja mencari nafkah halal demi keluarganya, ia tidak sekadar menjalankan pekerjaan. Ia sedang menunaikan tanggung jawab.
Ketika seorang ibu mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran, ia sedang menjalankan amanah.
Ketika seorang anak belajar sungguh-sungguh agar orang tuanya bahagia dan ia dapat menjadi manusia yang bermanfaat, perjuangannya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Allah SWT berfirman:
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ
“Berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk [67]: 15).
Ayat ini memberikan dorongan agar manusia bergerak, berusaha, dan mencari rezeki Allah. Perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena kehidupan menghadirkan kesulitan.
Karena itu, ketika merasa lelah, seseorang dapat mengingat wajah orang-orang yang dicintainya. Senyum mereka dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan yang sedang dilakukan memiliki tujuan.
Jangan Sampai Kesuksesan Menjauhkan Kita dari Mereka
Ada ironi dalam kehidupan modern.
Seseorang bekerja keras demi keluarga, tetapi karena terlalu sibuk bekerja, ia justru kehilangan waktu bersama keluarga.
Ia ingin membuat orang tua bahagia, tetapi setelah mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang baik, ia jarang pulang.
Ia ingin memberikan rumah yang bagus kepada orang tua, tetapi lupa bahwa orang tua mungkin lebih membutuhkan kehadiran daripada kemewahan.
Di sinilah kita perlu memahami makna kesuksesan secara lebih luas.
Kesuksesan bukan hanya tentang banyaknya harta.
Kesuksesan juga bukan sekadar jabatan, popularitas, atau gelar akademik.
Kesuksesan adalah ketika apa yang kita miliki membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita.
Apa artinya rumah megah jika penghuninya jarang berbicara?
Apa artinya kekayaan jika orang tua merasa kesepian?
Apa artinya jabatan tinggi jika hubungan dengan keluarga semakin jauh?
Kita perlu kembali kepada keseimbangan.
Bekerja keras, tetapi jangan kehilangan keluarga.
Mengejar cita-cita, tetapi jangan melupakan orang tua.
Mencari dunia, tetapi jangan kehilangan akhirat.
“Qul Lahuma Qawlan Karima”
Al-Qur’an memberikan pedoman komunikasi yang sangat indah:
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23).
Al-Qurtubi menjelaskan bahwa qawlan kariman berarti perkataan yang lembut, baik, dan penuh penghormatan.⁷
Al-Tabari juga meriwayatkan penafsiran bahwa perkataan yang mulia adalah perkataan yang lembut dan mudah diterima.⁸
Pesan ini penting karena banyak konflik keluarga sebenarnya bermula dari komunikasi yang buruk.
Kadang bukan masalahnya yang terlalu besar, tetapi cara menyampaikannya yang salah.
Seorang anak mungkin benar dalam sebuah persoalan, tetapi menjadi salah ketika menyampaikannya dengan membentak ibunya.
Seorang ayah mungkin sedang lelah, tetapi tetap harus berusaha menjaga perkataan kepada keluarganya.
Keluarga membutuhkan bukan hanya kecukupan materi, tetapi juga kecukupan kasih sayang.
Jangan Menunggu Mereka Pergi
Salah satu penyesalan manusia yang paling dalam adalah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik.
Selama orang tua masih hidup, pintu bakti masih terbuka.
Datanglah.
Teleponlah.
Peluklah.
Cium tangan mereka.
Dengarkan cerita mereka.
Tanyakan kesehatan mereka.
Bantu kebutuhan mereka.
Dan jangan malu mengatakan, “Saya sayang Ayah dan Ibu.”
Kalimat tersebut mungkin terasa sederhana. Tetapi bagi orang tua, ia dapat menjadi hadiah yang sangat berharga.
Allah mengajarkan doa:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 24).⁹
Doa ini sangat indah karena menghubungkan kasih sayang masa kecil dengan kewajiban anak ketika dewasa.
Dahulu kita membutuhkan tangan mereka.
Sekarang mungkin mereka membutuhkan tangan kita.
Dahulu mereka menggendong kita.
Sekarang mungkin kita harus menopang langkah mereka.
Dahulu mereka menyuapi kita.
Sekarang mungkin kita yang harus memastikan mereka mendapatkan makanan dan kebutuhan yang layak.
Inilah Siklus kehidupan.
Ketika Ibu dan Ayah Telah Tiada
Rindu yang paling berat adalah rindu kepada orang tua yang telah meninggal dunia.
Rumah masih berdiri, tetapi suara mereka tidak lagi terdengar.
Kursi masih ada, tetapi tidak ada lagi sosok yang duduk di sana.
Nomor telepon masih tersimpan, tetapi tidak mungkin lagi menerima panggilan dari mereka.
Pada saat itulah seorang anak memahami bahwa kesempatan bersama orang tua adalah nikmat yang tidak boleh disia-siakan.
Namun kematian tidak berarti berakhirnya seluruh bentuk bakti seorang anak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”¹⁰
Hadis ini memberikan harapan besar. Seorang anak saleh dapat terus menjadi sebab datangnya manfaat bagi orang tua yang telah meninggal melalui doa.
Maka jika ibu telah tiada, jangan biarkan kerinduan hanya menjadi tangisan.
Jadikan rindu sebagai doa.
Jadikan kenangan sebagai amal.
Jadikan nasihatnya sebagai pedoman hidup.
Jadilah anak yang baik agar menjadi bagian dari amal yang terus mengalir manfaatnya bagi mereka.
Menjadi Alasan Orang Tua Tersenyum
Jika senyum mereka adalah semangat kita, maka kita juga harus berusaha menjadi alasan mereka tersenyum.
Tidak harus menjadi manusia paling kaya.
Tidak harus memiliki jabatan paling tinggi.
Tidak harus terkenal.
Yang paling penting adalah menjadi anak yang baik.
Jujur dalam kehidupan.
Halal dalam mencari rezeki.
Santun dalam berbicara.
Rajin beribadah.
Bermanfaat bagi masyarakat.
Dan tidak melupakan orang tua.
Sebab bagi seorang ibu, kebahagiaan terbesar mungkin bukan ketika anaknya membawa pulang hadiah mahal.
Bisa jadi kebahagiaan itu hanya ketika anaknya pulang dan berkata:
“Bu, bagaimana kabarnya?”
Atau ketika seorang ayah mendengar anaknya berkata:
“Ayah, terima kasih telah berjuang untuk kami.”
Kalimat sederhana, tetapi sarat makna.
Penutup: Teruslah Berjuang
Hidup memang tidak selalu mudah.
Akan ada hari ketika kita gagal. Akan ada masa ketika kita kecewa. Akan ada perjalanan yang membuat kita ingin berhenti.
Namun jangan menyerah.
Jika langkah terasa berat, ingatlah wajah mereka.
Jika pekerjaan terasa melelahkan, ingatlah keluarga.
Jika usaha belum berhasil, ingatlah doa orang tua.
Jika kesuksesan telah datang, ingatlah siapa yang dahulu menemani kita ketika belum memiliki apa-apa.
Senyum mereka adalah semangatku.
Senyum ibu adalah pengingat tentang pengorbanan.
Senyum ayah adalah pengingat tentang tanggung jawab.
Senyum keluarga adalah pengingat bahwa perjuangan hidup tidak pernah benar-benar kita jalani sendirian.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya ingin dikenang karena banyaknya harta yang dikumpulkan atau tingginya jabatan yang pernah diduduki. Kita ingin dikenang sebagai manusia yang pernah memberikan manfaat dan menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita.
Maka, selagi ibu masih dapat tersenyum, bahagiakanlah.
Selagi ayah masih dapat berbicara, dengarkanlah.
Selagi keluarga masih berkumpul, nikmatilah.
Dan selagi Allah SWT masih memberikan kesempatan, jangan pernah berhenti berbuat baik.
Karena mungkin suatu hari nanti kita akan sangat merindukan senyum mereka.
Dan pada saat itu, yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan amal.
Semoga Allah menjaga kedua orang tua kita yang masih hidup, memberikan kesehatan, keberkahan, dan umur yang bermanfaat. Bagi mereka yang telah mendahului kita, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Ya Allah, jadikan kami anak-anak yang saleh, yang mampu membahagiakan kedua orang tua, menjaga kehormatan mereka, dan menjadi sebab datangnya kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat. Āmīn.Catatan Kaki — Chicago Notes
1. Al-Qur’an, Surah al-Isra’ 17:23. Ayat ini menghubungkan tauhid dengan kewajiban berbuat baik kepada orang tua dan melarang perkataan yang menyakiti mereka.
2. Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. al-Isra’ 17:23. Ibn Kathir menjelaskan bahwa larangan “uff” mencakup larangan perkataan buruk, sementara qawlan kariman menuntut perkataan yang lembut dan penuh penghormatan.
3. Al-Qur’an, Surah Luqman 31:14. Ayat tersebut menyebut secara khusus perjuangan ibu dalam mengandung dan menyusui serta memerintahkan syukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua.
4. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Luqman 31:14. Ia menerangkan wahnan ‘ala wahn sebagai kelemahan dan kesusahan yang bertambah-tambah serta mengingatkan penderitaan ibu dalam merawat anak.
5. Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS. Luqman 31:14. Al-Tabari menghimpun penafsiran tentang kelemahan demi kelemahan dan kesulitan demi kesulitan yang dialami ibu.
6. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadis no. 2548. Rasulullah ﷺ menyebut ibu tiga kali sebelum menyebut ayah ketika ditanya tentang orang yang paling berhak memperoleh perlakuan baik.
7. Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Isra’ 17:23. Al-Qurtubi menjelaskan qawlan kariman sebagai perkataan yang lembut, baik, dan penuh penghormatan.
8. Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami‘ al-Bayan, tafsir QS. al-Isra’ 17:23. Dalam penjelasannya, al-Tabari meriwayatkan bahwa qawlan kariman adalah perkataan yang lembut dan mudah diterima.
9. Al-Qur’an, Surah al-Isra’ 17:24. Ayat tersebut mengajarkan doa agar Allah merahmati kedua orang tua sebagaimana mereka menyayangi anak ketika kecil.
10. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Wasiyyah, hadis no. 1631. Hadis menyebut tiga perkara yang pahalanya tetap terkait dengan seseorang setelah kematiannya, salah satunya anak saleh yang mendoakannya.
11. Al-Qur’an, Surah al-Ahqaf 46:15. Ayat ini kembali mengingatkan manusia tentang beban kehamilan dan persalinan yang ditanggung seorang ibu.
12. Al-Qur’an, Surah al-Mulk 67:15. Ayat ini memberikan dorongan kepada manusia untuk bergerak di muka bumi dan mencari rezeki Allah.
13. Al-Qur’an, Surah al-Ankabut 29:8. Ayat tersebut memerintahkan manusia berbuat baik kepada kedua orang tua sekaligus memberikan batas bahwa ketaatan kepada mereka tidak berlaku dalam kemaksiatan kepada Allah SWT.
14. Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS. Luqman 31:14. Ibn Kathir menghubungkan pengorbanan ibu dalam pengasuhan dengan perintah seorang anak untuk mengingat kebaikan orang tuanya.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qurtubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Cairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah.
Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Cairo: Dar Hajr.
Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.
Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi.
Catatan: Rujukan hadis tentang kedudukan ibu dan keberlanjutan pahala anak saleh setelah kematian orang tua telah dicocokkan dengan Sahih Muslim, masing-masing hadis no. 2548 dan 1631. ***

Tulis Komentar